Senin, 09 Mei 2011

6 Alasan Wanita Harus BerWirausaha



6 Alasan Wanita Harus BerWirausaha

1)STATISTIK
Fakta hubungan wanita dan uang sangat mengejutkan.  Berikut ini adalah yang terjadi di negara maju, yang juga akan terjadi di negara berkembang, dimana statistiknya ada kemiripan:
  • 47% wanita di usia 50 tahun ke atas adalah "sendiri", dengan kata lain mereka bertanggung jawab atas keuangan pribadi mereka.
  • Penghasilan pensiun wanita lebih rendah dari pria.
  • Wanita memiliki umur harapan hidup rata-rata 7-10 tahun lebih panjang daripada pria, bahkan wanita yang terlahir di era "baby boomer" (setelah 1950an) memiliki 15-20 tahun lebih panjang daripada pria.  Kondisi ini mengharuskan mereka memiliki sumber keuangan yang dapat menghidupi mereka.
  • Golongan lansia dalam kemiskinan tiga per empat nya adalah wanita.
  • Kurang lebih 7 dari 10 wanita suatu waktu akan mengalami kemiskinan.
Statistik ini menunjukkan bahwa semakin banyak wanita yang tidak terdidik secara finansial dan tidak siap untuk menghadapi masalah keuangan ketika mereka bertambah tua. Mereka telah menghabiskan waktu mengurus keluarganya selama ini tanpa memiliki kemampuan menangani diri sendiri ketika kondisi di atas terjadi.

2)Menghindari Ketergantugan
Wanita tidak masuk ke jenjang pernikahan karena mengharapkan perceraian, bukan?  Mereka bekerja tentunya tidak berharap akan PHK.  Tetapi itulah yang terjadi bahkan semakin bertambah, yaitu perceraian, PHK dan lain-lain yang menyebabkan wanita harus mandiri secara finansial.  Jika wanita saat ini sangat tergantung pada suami, atasan, atau kepada siapapun untuk kepentingan finansialnya, berpikirlah dua kali.  Sangat jamak bahwa wanita tidak menyadari ketergantungan itu sampai dengan mereka menghadapi kenyataan itu.

3)Keterbatasan karir di dunia pekerjaan
Meskipun sekarang sudah bertambah jumlah wanita karir yang menanjak sampai posisi puncak di perusahaan, tetapi secara jumlah absolut dan kemungkinan itu masih sangat kecil jumlahnya dibandingkan pria.  Ini sebuah kenyataan.  Artinya bahwa wanita kebanyakan tidak akan mencapai kondisi finansial yang maksimal untuk menghasilkan  secara finansial.

4)Batasan penghasilan antara pria dan wanita
Fakta menunjukkan bahwa masih ada saja paham bahwa pria dan wanita yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan pengalaman kerja yang sama, ternyata pria yang diberikan gaji lebih tinggi daripada wanita.  Ini fenomena yang terjadi.

5)Kehabisan waktu produktif
Secara alamiah wanita punya tanggung jawab untuk mengurus keluarga (suami dan anak-anak), menyiapkan A-Z nya dari pagi sampai mau tidur.  Hal ini mengakibatkan wanita tidak memiliki banyak waktu untuk hal lain seperti pengembangan diri, bersosial, beraktifitas lain dan juga menghasilkan pendapatan.  Dengan itu wanita sangat kekurangan dalam hal kemampuan finansial ketika itu dibutuhkan, karena mungkin suami berpenghasilan tidak cukup, suami kena PHK atau bahkan suami meninggal.

6)Membangun kemakmuran adalah keharusan
Kalau dulu paham bahwa menjadi kaya makmur adalah sebuah kemewahan, tetapi kenyataan mengatakan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran pribadi dan keluarga merupakan keharusan di mas sekarang ke depan.  Sudah banyak fakta statistik seperti di atas menunjukkan bahwa wanita sekarang harus mandiri dengan berpenghasilan sendiri.  Jalan terbaik adalah ber-wirausaha. 



AAA The Coach
Women Entrepreneurship 

Sabtu, 02 April 2011



PENGHASILAN TAMBAHAN/LAIN, PERLUKAH SAYA?

Apakah penghasilan kita sudah bisa membiayai kehidupan layak ?  Layak ... apa definisi kriterianya?

Bisa makan, beli pakaian, bisa sekolah, punya rumah, menabung, berinvestasi, punya usaha  ... dll, itu semua tergantung gaya hidup yang kita pilih.  Pilihan kita untuk menjalani kehidupan yang kita inginkan adalah pemicu dari kebutuhan berapa banyak uang yang dibutuhkan.  Di luar itu, faktor luar seperti inflasi riil bisa melebihi jauh dari kenaikan penghasilan dari pekerjaan, juga seperti kenaikan biaya pendidikan yang lumayan agresif dll.   Contohnya gaji naik sekitar 5-8%, inflasi riil bisa 10% bahkan lebih, biaya pendidikan bisa naik 15-20% per tahun.  Alhasil penghasilan utama kita sekarang tidak dapat mengejar kenaikan itu semua.

Faktanya adalah 95% orang membutuhkan penghasilan tambahan (lain) di luar apa yang mereka dapatkan dari penghasilan utama, baik pegawai maupun wirausahawan.  Mereka telah memilih gaya hidupnya yang memicu kebutuhan penghasilan tambahan.  Lalu apa pilihan jalan untuk mendapatkan penghasilan tambahan itu?  Pindah pekerjaan?  Apa bekerja "double" ... waktu atau jenis pekerjaan?  Atau berwirausaha?  Atau berinvestasi?

Apapun pilihan jalan untuk mendapatkan penghasilan tambahan, kita perlu cerdas dalam menentukannya.  Ini tergantung dari apa tujuan jangka panjang kita.  Memang kebutuhan tambahan uang mungkin mendesak, tetapi kembali kita perlu cukup strategis dan taktis dalam memilih dan menjalaninya.  Karena banya orang yang karena mendesak maka tergesa-gesa mengambil langkah, ternyata yang tadinya ingin dapat tambahan malah jadinya minus.  Ada juga yang tadinya masih bisa menikmati waktu bersama keluarga atau untuk diri sendiri, malah jadi tidak punya waktu sama sekali.  Bahkan cukup banyak yang masih harus bekerja mencari nafkah untuk menghidupinya di kala usianya sudah 65 tahun. 

Pilihan paling bijak adalah untuk memilih jalan yang modalnya rendah, resikonya rendah, waktu fleksibel (kita bisa kelola), tempat bisa dicapai efisien (alias tidak macet, buang waktu, buang uang) dan secara keahlian kita bisa pelajar i(kalaupun itu di luar bidang keahlian utama kita).

Dengan sikon, fakta dan pemikiran di atas, sangat perlu kiranya untuk kita menentukan langkah pasti bahwa kita harus memiliki sumber lain sebagai penghasilan tambahan.  Pertama adalah untuk mendukung kehidupan rutin sekarang, kedua adalah untuk mempersiapkan kebutuhan jangka panjang ke depan, dan ketiga untuk menyebar resiko di beberapa keranjang telur supaya kalau keranjang satu jatuh masih ada cadangan yang lain.

Ambil keputusan untuk langkah yang pasti dan benar.  Sukses = Berubah.

Salam Sukses Selalu,

Aldi A. Affandi
Alternative Income Advisory

Jumat, 01 April 2011

PENSIUN ... Positif atau Negatif buat kita ?



PENSIUN BERKUALITAS

Kata PENSIUN ... apa yang terpikir oleh kita ?

Tua, lamban, murung, tidak bekerja (berkarya), santai, sakit, tidak ada teman, kurang uang, atau tidak berguna lagi (?).
ATAU SEBALIKNYA ...
Dinamis, aktif, berkarya, berguna, sehat, ceria, banyak teman, banyak uang, jalan-jalan !!!

Apa yang ada di PIKIRAN akan menjadi PERKATAAN, yang berlanjut menjadi TINDAKAN.
Tindakan yang berulang-ulang menjadi KEBIASAAN, yang dilakukan bertahun-tahun akan menjadi KARAKTER.
Karakter inilah yang membentuk NASIB (MASA DEPAN) kita.

Bila kata PENSIUN itu menjadi momok negatif dalam pikiran kita, maka sudah bisa dipastikan nasib (masa depan) kita pun akan negatif.  Berarti kalau kita menginginkan masa depan yang baik dan lebih baik, perlu menterjemahkan kata PENSIUN itu secara POSITIF, baik di pikiran dan dalam perasaan.

Berpikiran positif saja ternyata tidak cukup, karena masih ada faktor mental perasaan yang menentukan. Kombinasi (PIKIRAN + PERASAAN) x POSITIF = MASA DEPAN CEMERLANG.

Jadi apa yang perlu dilakukan sekarang dalam rangka mempersiapkan PENSIUN BERKUALITAS ?

Mulailah untuk bergaul dengan mereka yang sudah mengalami PENSIUN BERKUALITAS ... alias dinamis, aktif, berkarya, berguna, sehat, ceria, banyak teman, banyak uang, jalan-jalan !!  Lalu masuk ke dalam komunitasnya yang pastinya akan kondusif untuk mendukung kita menuju tujuan dan ikuti seorang Mentor untuk membimbing kita dari sekarang (karena dibutuhkan waktu dan proses).

Mereka yang melakukan ini bisa mengalami ketika memang masuk di usia pensiun 55+ tahun atau bahkan sekarang banyak yang sudah bisa meraihnya di usia sebelum 40 tahun.  Ini menjadi sebuah perspektif dan paradigma baru bagi pada umumnya kita yang terbiasa dan tertanam dengan pola bahwa pensiun itu "harus" sudah usia senior (tua gitu lho !!).

Menarik ya ?

"Bila kita tidak merubah arah, maka kita akan seperti orang di depan kita".  Hati-hati bila kita sedang mengikuti orang di depan kita, bisa boss, teman, saudara bahkan orang tua kita  ... karena sedikit banyak bahkan kental sekali kita bisa seperti mereka.  Bagus kalau dalam konteks nasib masa depan yang positif baik dan berkualitas secara lengkap (spiritual, mental, fisik, finansial, sosial, gaya hidup).  Bagaimana kalau tidak?

PENSIUN BERKUALITAS perlu dipikirkan, direncanakan, dipersiapkan dan dilakukan !!

Bayangkan bila dalam waktu 3-5 tahun ke depan TERNYATA kita bisa meraihnya, bagaimana?
Pasti sikap kita hari ini akan berbeda 180 derajat dari apa yang kita terbiasa sekarang.  Kita akan siap untuk berubah.

SUKSES = BERUBAH
Tidak mau berubah, lupakan sukses.  Memang berubah tidak nyaman, tetapi berharga untuk masa depan lebih baik lagi.

Mari kita sambut dan raih PENSIUN BERKUALITAS.


The School Of Quality Retirement
Aldi A. Affandi (Coach Of Retiree)

Minggu, 27 Maret 2011

Program TRAINED ENTREPRENEUR: "AKU BISA"

Program TRAINED ENTREPRENEUR: "AKU BISA"

Bekerja untuk mendapatkan penghasilan sangat berbeda dengan bekerja untuk membangun asset yang memberikan penghasilan selamanya. Dalam hal yang pertama itu bila seseorang tidak bekerja maka yang bersangkutan tidak akan mendapatkan penghasilan. Sedangkan di situasi yang kedua, bila seseorang tidak bekerja lagi maka aset produktifnya yang memberikan penghasilan kepadanya. 
Bayangkan anda memiliki aset produktif sebesar Rp 2 Milyar !!!

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya untuk bisa mengumpulkan uang sebesar itu.

Apakah dengan bekerja lebih keras, menabung, investasi, bisnis atau yang lain (apa) ?

Berikut ini ilustrasi cara menabung  untuk mengumpulkan Rp 2 Milyar.

Gaji (Penghasilan)
Rp. 5 juta
Rp. 25 juta
Rp. 100 juta
Rp. 200 juta
Menabung      (10% dari gaji)
Rp. 500 ribu
Rp. 2,5 juta
Rp. 10 juta
Rp. 20 juta
Waktu dibutuhkan
4000 bulan
(333 tahun)
800 bulan
(67 tahun)
200 bulan
(17 tahun)
100 bulan
(8 tahun)

Melihat gambaran di atas barulah kita dapat melihat betapa tidak mudahnya (bahkan mustahil) untuk kebanyakan orang dalam sikonnya sekarang untuk mengumpulkan Rp 2 Milyar dengan cara normal menabung.
Hanya segelintir orang dengan kemampuan finansial yang sangat berlebihlah yang dapat melakukan itu.

Lalu pertanyaannya apakah untuk sebagian besar orang tidak bisa melakukan hal yang sama? 
Mereka bisa mengambil jalan alternatif dengan mengikuti Program "AKU BISA 102".

Program TRAINED ENTREPRENEUR "AKU BISA" akan memberikan pembimbingan  paruh waktu 10 bulan untuk anda bisa membangun aset produktif senilai Rp. 2 Milyar.
Anda akan dibimbing oleh Mentor berpengalaman untuk mengikuti  sistem edukasi dalam bentuk program dan kegiatan-kegiatan produktif.

Pendekatan pembimbingan yang diambil adalah kombinasi “Life Goal – Change Decision - Personal Development – Leadership Growth – Financial Intelligence – Business Skill”.                                                                                                                 

Penerapannya dilakukan di dalam sebuah komunitas dengan bentuk kegiatan produktif dalam wadah usaha ritel “family-based franchise”. 

Bayangkan dalam waktu 10 bulan ke depan secara paruh waktu anda dibimbing untuk belajar baru sebagai “trained entrepreneur” dan di akhir periode sudah memiliki aset senilai Rp 2 Milyar.

Untuk melipatgandakan aset produktif anda hanya perlu mengulang proses yang sama.  Sederhana, bukan?                        

Bandingkan kalau harus menabung seperti gambaran di atas tadi.  Ini merupakan sebuah awal menuju peningkatan kualitas kehidupan baik secara finansial maupun non-finansial yang jauh lebih baik.



Selamat mengikuti Program "AKU BISA" dan …
                                                                                                     
Selamat Datang untuk Anda sebagai “Trained Entrepreneur”.